Sunday, January 27, 2008

Harga minyak akan tancap gas terus?





Semua faktor yang memengaruhi minyak, seperti saya uraikan dalam artikel sebelumnya, perlu diperhatikan dengan seksama, sehingga Anda sebagai seorang investor lebih memahami dan memprediksi arah pergerakan harga komoditas ke depan.

Dari sisi fundamental dan teknikal, harga minyak tahun ini kemungkinan berkisar antara US$85 dan US$125 per barel, di mana harganya dapat terkoreksi pada kuartal kedua (yang secara historis mengalami kelebihan pasokan atau permintaan).

Namun, mulai kuartal ketiga diprediksi kembali menguat sampai akhir tahun.

Kenaikan harga minyak ini sebetulnya juga memberikan angin segar kepada Indonesia yang kaya akan sumber daya alam. Harga komoditas a.l. emas, batu bara, dan minyak kelapa sawit ikut meningkat.

Harga emas tercatat telah menguat 32% pada 2007, kenaikan tahunan terbesarnya sejak 1979. Awal tahun ini pun dimulai dengan gemilang, di mana harga emas langsung mencetak rekor tertinggi baru di level US$872,9 per troy ounce.

Pencapaian itu mengikuti sentimen bullish-nya pasar komoditas sebagai investasi alternatif, lemahnya nilai tukar dolar AS, naiknya harga minyak, dan ketidakpastian tensi geopolitik setelah pembunuhan mantan PM Pakistan Benazir Bhutto.

Kenaikan harga emas hingga saat ini telah mencapai US$83 per troy ounce (atau 10,5%) dari harga terendahnya di level US$789,6 per troy ounce pada 17 Desember.

Secara teknis kondisi itu mengindikasikan harga emas akan mencoba level tertinggi pada ada level US$900 per troy ounce, selama harga minyak tetap tinggi dan dolar AS tidak terapresiasi secara signifikan.

Pada 2008 emas tetap akan mengilap dan daya tariknya terjaga dengan baik di mata investor, terutama yang disebabkan oleh kencendrungan dolar AS terperosok makin jauh, ketidakstabilan kondisi geopolitik, naiknya harga minyak, dan kemungkinan resesi ekonomi AS.

Faktor tersebut merupakan pendorong yang cukup meyakinkan untuk berinvestasi pada emas, yang selama ini masih dianggap sebagai safe haven (investasi yang aman dalam kondisi ekonomi ataupun politik yang tidak menentu) dan inflation hedge (pelindung nilai terhadap inflasi yang makin tinggi) yang paling unggul.

Sesuai inflasi

Jangan lupa, harga emas masih berada jauh di bawah level yang pernah dicapai pada 1980, jika disesuaikan dengan tingkat inflasi selama 27 tahun terakhir ini.

Seandainya inflasi diperhitungkan berdasarkan indeks harga konsumen (consumer price index) AS, level tertinggi emas yang sempat tersentuh di posisi US$850 per troy ounce pada Januari 1980 saat ini setara dengan US$2.250 per troy ounce.

Meskipun prospek emas ke depan masih cerah, saya perlu mengingatkan investor untuk tidak langsung mengejar harga yang sedang naik kencang.

Lebih bijaksana jika menunggu koreksi jangka pendek yang terjadi secara teratur dan memberikan peluang untuk masuk pasar ketika harga komoditas itu lebih murah dan rendah.

Sebagai catatan, pasar emas secara musiman biasanya agak tertekan setelah perayaan tahun baru China hingga April setiap tahunnya. Jadi, kemungkinan periode tersebut bisa dimanfaatkan untuk mencari titik masuk yang tepat.

Dengan harga minyak yang bertengger di level US$90-an per barel, hal ini menjadikan batu bara sebagai sumber energi alternatif yang paling menarik dan murah.

Industrialisasi dan urbanisasi yang cepat di Asia diperkirakan terus mempunyai dampak yang signifikan terhadap konsumsi energi secara global.

Di China saja setiap minggunya terdapat pembangunan empat hingga lima pembangkit listrik yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakar.

Jumlah tersebut lebih banyak daripada waktu kapanpun sejak pembangunan dimulai pada 1950, setelah perang dunia kedua. Jadi, memang pantas untuk menominasikan batu bara sebagai alternatif favorit terbaru untuk minyak.

Indonesia, yang telah berhasil melipatgandakan tingkat produksinya dalam lima tahun menjadi 220 juta ton per tahun, pada saat ini merupakan eksportir nomor pertama dunia.

Peluang emas

Sebagai investor, Anda tentunya bisa memanfaatkan peluang emas tersebut dengan berinvestasi dalam perusahaan batu bara yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia seperti efek milik PT Bumi Resources Tbk, Indo Tambangraya Megah Tbk, dan Tambang Batubara Bukit Asam Tbk.

Pada gilirannya, permintaan yang makin tinggi akan biofuel kian mendukung kenaikan harga minyak kelapa sawit (CPO), dan sekaligus menciptakan suatu korelasi positif dengan harga minyak mentah.

Dengan kata lain, setiap kali harga minyak menguat, harga minyak kelapa sawit pun ikut terapresiasi. Namun, bukan hanya pergerakan harga minyak mentah yang memengaruhi harga produk pertanian seperti CPO.

Permintaan untuk makanan dalam kuantitas yang lebih besar dan dengan kualitas yang lebih tinggi, menjadi faktor pemicu kenaikan harga lainnya.

Di China dan India, saat ini terdapat puluhan juta orang yang mampu beli produk pertanian yang berasal dari luar negeri dengan harga berapapun juga. Sebagai orang kaya baru mereka ingin menikmati makanan yang telah lama menjadi diet sehari-hari di negara maju.

Selain itu, jangan dilupakan banjir yang sering menerpa berbagai wilayah di Indonesia dapat menghambat produksi dan mengurangi pasokan komoditas itu.

Ketiga faktor itu kemungkinan besar cukup ampuh memacu harga minyak kelapa sawit di atas level US$1.200 per ton pada akhir 2008.

Sebagai penutup, saya hanya ingin menyarankan investor untuk hanya menanamkan modal di pasar modal ataupun pasar berjangka yang benar-benar dingin dan tidak diperlukan untuk kebutuhan sehari-hari.

Hal ini dipengaruhi volatilitas yang cukup tinggi pada 2008. Jadi, kencangkan sabuk pengaman Anda dan bersiaplah untuk menangkap peluang dengan baik dan menghindari kerugian.

Selamat berinvestasi dan semoga sukses selalu.

Wednesday, January 23, 2008

Macam-macam Investor

Dalam bukunya Cashflow Quadrant (1998), Robert Kiyosaki mengelompokkan investor dalam tujuh tingkatan (level). Khusus untuk investor tingkat 3, dia membaginya lagi dalam tiga kelompok yaitu 3A, 3B, dan 3C sehingga secara keseluruhan ada sembilan tingkatan investor. Saya menyederhanakannya menjadi enam tingkat. Berikut karakteristik masing-masing tingkat versi saya.

  • Tingkat 0: Tidak berinvestasi

    Inilah kelompok orang yang hampir tidak pernah melakukan investasi. Yang masuk dalam kelompok ini adalah mereka yang berpenghasilan pas-pasan (marjinal) dan mereka yang kas defisit. Yang marjinal adalah mereka yang penghasilannya hanya cukup untuk biaya hidupnya sementara yang kas defisit adalah mereka yang lebih besar pasak daripada tiang.

  • Tingkat 1: Penabung

    Investor tingkat 1 diisi para penabung dan deposan bank. Mereka mengutamakan kepastian dan keutuhan uangnya. Investor tingkat ini sangat menghindari risiko, sekecil apapun, sehingga tidak menyukai produk-produk pasar modal.

    Para penabung melupakan satu hal bahwa bunga bersih tabungan dan deposito di bawah inflasi sehingga return riil menjadi negatif. Mereka tidak paham kalau rupiah telah kehilangan 72,4% nilainya dalam 10 tahun terakhir (1998-2007). Mereka tidak menyadari kalau inflasi dengan pelan namun pasti terus menggerogoti nilai riil uangnya.

    Menabung adalah kebiasaan baik dan menyimpan dana darurat sebesar 3-6 kali pengeluaran bulanan di bank untuk tujuan berjaga-jaga (precaution) adalah tindakan bijak. Tetapi menyimpan dana lebih dari pengeluaran rutin 6 bulan dalam tabungan adalah kurang cerdas.

  • Tingkat 2: Investor awam

    Investor kelompok ini tidak tabu dengan saham dan obligasi. Mereka memahami bunga obligasi dan ORI lebih menarik daripada bunga deposito. Mereka juga mengetahui kalau investasi saham dapat memberikan return tahunan 20% atau lebih.

    Investor awam umumnya berpengalaman minim dengan waktu dan akses mendapatkan informasi yang relatif terbatas. Karenanya, mereka biasanya ketinggalan dalam membeli dan menjual saham. Bukannya menerapkan strategi buy low and sell high, mereka justru mengalami kebalikannya yaitu buy high and sell low.

    Karena kurang informasi, saat sebuah saham layak beli, investor awam masih merasa takut. Mereka ikut juga membeli saham ketika sifat serakah mampu mengalahkan rasa takutnya. Mungkin karena berita tentang saham ini sudah dimuat di media massa. Keputusannya ini sering sudah terlambat karena momentum pasar malah melemah sesaat setelah mereka membeli. Secara rata-rata, return investor awam akan berada di bawah pasar. Saat indeks naik 50%, return mereka mungkin hanya sekitar 30%-40%.

    Untuk investor tingkat ini, saran saya adalah alokasikan sebagian besar dana Anda dalam reksa dana saham atau exchange-traded fund berbasis indeks LQ-45 yang sudah diperdagangkan di BEI sejak 18 Desember 2007 lalu.

  • Tingkat 3: Investor jangka panjang

    Investor tingkat 3 berkemampuan di atas investor awam. Mereka lebih berpengalaman dan mengetahui kalau strategi buy and hold dalam berinvestasi saham lebih menguntungkan daripada strategi trading. Dengan keterbatasan waktu dan informasi yang dimiliki dan sulitnya market timing, mereka melakukan strategi pasif yaitu menekankan stock selection (pemilihan saham) berdasarkan analisa fundamental.

    Investor jangka panjang percaya bahwa dalam jangka panjang, nilai portofolio sahamnya akan bergerak mengikuti indeks pasar. Jika IHSG naik 546% dalam 5 tahun terakhir, portofolio mereka kurang lebih juga akan meningkat sebesar itu untuk periode yang sama. Robert Kiyosaki dan Warren Buffet mengatakan kalau sebagian besar jutawan Amerika yang sukses dari berinvestasi saham berasal dari tingkatan ini.

  • Tingkat 4: Investor piawai

    Inilah kelompok jawara investor saham. Mereka mempunyai catatan kemenangan yang konsisten dalam mengalahkan pasar selama beberapa tahun. Mereka mungkin pernah mengalami kerugian cukup besar, namun mereka mengambil hikmah dan pelajaran dari kesalahan pemilihan saham di masa lalu itu.

    Saat indeks hanya meningkat 20%, portofolio investor piawai mungkin saja sudah naik 25%, atau 5% di atas pasar. Saat indeks stabil, mereka masih tetap mampu menghasilkan return positif.

    Investor piawai adalah investor yang fokus dan mampu memanfaatkan dan menggabungkan semua informasi. Baik informasi tentang ekonomi global, makro ekonomi, dan industri, maupun informasi dari laporan keuangan perusahaan.

    Mereka dapat membedakan antara saham bagus dan perusahaan bagus. Jika investor awam seringnya sell the winners too soon and hold the losers too long, mereka sebaliknya yaitu sell the losers in time and hold the winners long enough.

    Pada praktiknya, hanya segelintir investor bisa masuk dalam tingkat ini. Jika Anda kebetulan mengenalnya, jangan ragu untuk bertanya dan berguru padanya soal saham.

  • Tingkat 5: Investor kapitalis

    Dibandingkan dengan investor tingkat lainnya, jumlah investor tingkat 5 adalah yang paling sedikit, mungkin hanya 1-2 orang dari sejuta penduduk. Investor kapitalis sebenarnya adalah para pengusaha dan pebisnis ulung yang namanya kita kenal. Mereka mampu mengembangbiakkan uangnya menjadi berkali-kali lipat dalam waktu singkat dengan memanfaatkan bakat, waktu, dan uang orang lain. Mereka adalah penggerak perekonomian nasional hingga mampu bertumbuh 6% lebih.

    Jika investor piawai melakukan investasi untuk portofolionya sendiri dengan menggunakan dana sendiri, investor kapitalis menggunakan dana orang lain untuk membuka peluang investasi dan menciptakan pekerjaan untuk investor/orang lain.

    Anda ingin tahu siapa saja mereka? Di Amerika, ada Henry Ford, Bill Gates, Michael Dell, dan Ray Kroc. Di Indonesia, kita punya Aburizal Bakrie, Ciputra, Chairul Tanjung, Anthony Salim, dan lainnya.

  •