Dalam bukunya Cashflow Quadrant (1998), Robert Kiyosaki mengelompokkan investor dalam tujuh tingkatan (level). Khusus untuk investor tingkat 3, dia membaginya lagi dalam tiga kelompok yaitu 3A, 3B, dan 3C sehingga secara keseluruhan ada sembilan tingkatan investor. Saya menyederhanakannya menjadi enam tingkat. Berikut karakteristik masing-masing tingkat versi saya.
Inilah kelompok orang yang hampir tidak pernah melakukan investasi. Yang masuk dalam kelompok ini adalah mereka yang berpenghasilan pas-pasan (marjinal) dan mereka yang kas defisit. Yang marjinal adalah mereka yang penghasilannya hanya cukup untuk biaya hidupnya sementara yang kas defisit adalah mereka yang lebih besar pasak daripada tiang.
Investor tingkat 1 diisi para penabung dan deposan bank. Mereka mengutamakan kepastian dan keutuhan uangnya. Investor tingkat ini sangat menghindari risiko, sekecil apapun, sehingga tidak menyukai produk-produk pasar modal.
Para penabung melupakan satu hal bahwa bunga bersih tabungan dan deposito di bawah inflasi sehingga return riil menjadi negatif. Mereka tidak paham kalau rupiah telah kehilangan 72,4% nilainya dalam 10 tahun terakhir (1998-2007). Mereka tidak menyadari kalau inflasi dengan pelan namun pasti terus menggerogoti nilai riil uangnya.
Menabung adalah kebiasaan baik dan menyimpan dana darurat sebesar 3-6 kali pengeluaran bulanan di bank untuk tujuan berjaga-jaga (precaution) adalah tindakan bijak. Tetapi menyimpan dana lebih dari pengeluaran rutin 6 bulan dalam tabungan adalah kurang cerdas.
Investor kelompok ini tidak tabu dengan saham dan obligasi. Mereka memahami bunga obligasi dan ORI lebih menarik daripada bunga deposito. Mereka juga mengetahui kalau investasi saham dapat memberikan return tahunan 20% atau lebih.
Investor awam umumnya berpengalaman minim dengan waktu dan akses mendapatkan informasi yang relatif terbatas. Karenanya, mereka biasanya ketinggalan dalam membeli dan menjual saham. Bukannya menerapkan strategi buy low and sell high, mereka justru mengalami kebalikannya yaitu buy high and sell low.
Karena kurang informasi, saat sebuah saham layak beli, investor awam masih merasa takut. Mereka ikut juga membeli saham ketika sifat serakah mampu mengalahkan rasa takutnya. Mungkin karena berita tentang saham ini sudah dimuat di media massa. Keputusannya ini sering sudah terlambat karena momentum pasar malah melemah sesaat setelah mereka membeli. Secara rata-rata, return investor awam akan berada di bawah pasar. Saat indeks naik 50%, return mereka mungkin hanya sekitar 30%-40%.
Untuk investor tingkat ini, saran saya adalah alokasikan sebagian besar dana Anda dalam reksa dana saham atau exchange-traded fund berbasis indeks LQ-45 yang sudah diperdagangkan di BEI sejak 18 Desember 2007 lalu.
Investor tingkat 3 berkemampuan di atas investor awam. Mereka lebih berpengalaman dan mengetahui kalau strategi buy and hold dalam berinvestasi saham lebih menguntungkan daripada strategi trading. Dengan keterbatasan waktu dan informasi yang dimiliki dan sulitnya market timing, mereka melakukan strategi pasif yaitu menekankan stock selection (pemilihan saham) berdasarkan analisa fundamental.
Investor jangka panjang percaya bahwa dalam jangka panjang, nilai portofolio sahamnya akan bergerak mengikuti indeks pasar. Jika IHSG naik 546% dalam 5 tahun terakhir, portofolio mereka kurang lebih juga akan meningkat sebesar itu untuk periode yang sama. Robert Kiyosaki dan Warren Buffet mengatakan kalau sebagian besar jutawan Amerika yang sukses dari berinvestasi saham berasal dari tingkatan ini.
Inilah kelompok jawara investor saham. Mereka mempunyai catatan kemenangan yang konsisten dalam mengalahkan pasar selama beberapa tahun. Mereka mungkin pernah mengalami kerugian cukup besar, namun mereka mengambil hikmah dan pelajaran dari kesalahan pemilihan saham di masa lalu itu.
Saat indeks hanya meningkat 20%, portofolio investor piawai mungkin saja sudah naik 25%, atau 5% di atas pasar. Saat indeks stabil, mereka masih tetap mampu menghasilkan return positif.
Investor piawai adalah investor yang fokus dan mampu memanfaatkan dan menggabungkan semua informasi. Baik informasi tentang ekonomi global, makro ekonomi, dan industri, maupun informasi dari laporan keuangan perusahaan.
Mereka dapat membedakan antara saham bagus dan perusahaan bagus. Jika investor awam seringnya sell the winners too soon and hold the losers too long, mereka sebaliknya yaitu sell the losers in time and hold the winners long enough.
Pada praktiknya, hanya segelintir investor bisa masuk dalam tingkat ini. Jika Anda kebetulan mengenalnya, jangan ragu untuk bertanya dan berguru padanya soal saham.
Dibandingkan dengan investor tingkat lainnya, jumlah investor tingkat 5 adalah yang paling sedikit, mungkin hanya 1-2 orang dari sejuta penduduk. Investor kapitalis sebenarnya adalah para pengusaha dan pebisnis ulung yang namanya kita kenal. Mereka mampu mengembangbiakkan uangnya menjadi berkali-kali lipat dalam waktu singkat dengan memanfaatkan bakat, waktu, dan uang orang lain. Mereka adalah penggerak perekonomian nasional hingga mampu bertumbuh 6% lebih.
Jika investor piawai melakukan investasi untuk portofolionya sendiri dengan menggunakan dana sendiri, investor kapitalis menggunakan dana orang lain untuk membuka peluang investasi dan menciptakan pekerjaan untuk investor/orang lain.
Anda ingin tahu siapa saja mereka? Di Amerika, ada Henry Ford, Bill Gates, Michael Dell, dan Ray Kroc. Di Indonesia, kita punya Aburizal Bakrie, Ciputra, Chairul Tanjung, Anthony Salim, dan lainnya.
No comments:
Post a Comment