| Semua faktor yang memengaruhi minyak, seperti saya uraikan dalam artikel sebelumnya, perlu diperhatikan dengan seksama, sehingga Anda sebagai seorang investor lebih memahami dan memprediksi arah pergerakan harga komoditas ke depan. Dari sisi fundamental dan teknikal, harga minyak tahun ini kemungkinan berkisar antara US$85 dan US$125 per barel, di mana harganya dapat terkoreksi pada kuartal kedua (yang secara historis mengalami kelebihan pasokan atau permintaan). Namun, mulai kuartal ketiga diprediksi kembali menguat sampai akhir tahun. Kenaikan harga minyak ini sebetulnya juga memberikan angin segar kepada Indonesia yang kaya akan sumber daya alam. Harga komoditas a.l. emas, batu bara, dan minyak kelapa sawit ikut meningkat. Harga emas tercatat telah menguat 32% pada 2007, kenaikan tahunan terbesarnya sejak 1979. Awal tahun ini pun dimulai dengan gemilang, di mana harga emas langsung mencetak rekor tertinggi baru di level US$872,9 per troy ounce. Pencapaian itu mengikuti sentimen bullish-nya pasar komoditas sebagai investasi alternatif, lemahnya nilai tukar dolar AS, naiknya harga minyak, dan ketidakpastian tensi geopolitik setelah pembunuhan mantan PM Pakistan Benazir Bhutto. Kenaikan harga emas hingga saat ini telah mencapai US$83 per troy ounce (atau 10,5%) dari harga terendahnya di level US$789,6 per troy ounce pada 17 Desember. Secara teknis kondisi itu mengindikasikan harga emas akan mencoba level tertinggi pada ada level US$900 per troy ounce, selama harga minyak tetap tinggi dan dolar AS tidak terapresiasi secara signifikan. Pada 2008 emas tetap akan mengilap dan daya tariknya terjaga dengan baik di mata investor, terutama yang disebabkan oleh kencendrungan dolar AS terperosok makin jauh, ketidakstabilan kondisi geopolitik, naiknya harga minyak, dan kemungkinan resesi ekonomi AS. Faktor tersebut merupakan pendorong yang cukup meyakinkan untuk berinvestasi pada emas, yang selama ini masih dianggap sebagai safe haven (investasi yang aman dalam kondisi ekonomi ataupun politik yang tidak menentu) dan inflation hedge (pelindung nilai terhadap inflasi yang makin tinggi) yang paling unggul. Sesuai inflasi Jangan lupa, harga emas masih berada jauh di bawah level yang pernah dicapai pada 1980, jika disesuaikan dengan tingkat inflasi selama 27 tahun terakhir ini. Seandainya inflasi diperhitungkan berdasarkan indeks harga konsumen (consumer price index) AS, level tertinggi emas yang sempat tersentuh di posisi US$850 per troy ounce pada Januari 1980 saat ini setara dengan US$2.250 per troy ounce. Meskipun prospek emas ke depan masih cerah, saya perlu mengingatkan investor untuk tidak langsung mengejar harga yang sedang naik kencang. Lebih bijaksana jika menunggu koreksi jangka pendek yang terjadi secara teratur dan memberikan peluang untuk masuk pasar ketika harga komoditas itu lebih murah dan rendah. Sebagai catatan, pasar emas secara musiman biasanya agak tertekan setelah perayaan tahun baru China hingga April setiap tahunnya. Jadi, kemungkinan periode tersebut bisa dimanfaatkan untuk mencari titik masuk yang tepat. Dengan harga minyak yang bertengger di level US$90-an per barel, hal ini menjadikan batu bara sebagai sumber energi alternatif yang paling menarik dan murah. Industrialisasi dan urbanisasi yang cepat di Asia diperkirakan terus mempunyai dampak yang signifikan terhadap konsumsi energi secara global. Di China saja setiap minggunya terdapat pembangunan empat hingga lima pembangkit listrik yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakar. Jumlah tersebut lebih banyak daripada waktu kapanpun sejak pembangunan dimulai pada 1950, setelah perang dunia kedua. Jadi, memang pantas untuk menominasikan batu bara sebagai alternatif favorit terbaru untuk minyak. Indonesia, yang telah berhasil melipatgandakan tingkat produksinya dalam lima tahun menjadi 220 juta ton per tahun, pada saat ini merupakan eksportir nomor pertama dunia. Peluang emas Sebagai investor, Anda tentunya bisa memanfaatkan peluang emas tersebut dengan berinvestasi dalam perusahaan batu bara yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia seperti efek milik PT Bumi Resources Tbk, Indo Tambangraya Megah Tbk, dan Tambang Batubara Bukit Asam Tbk. Pada gilirannya, permintaan yang makin tinggi akan biofuel kian mendukung kenaikan harga minyak kelapa sawit (CPO), dan sekaligus menciptakan suatu korelasi positif dengan harga minyak mentah. Dengan kata lain, setiap kali harga minyak menguat, harga minyak kelapa sawit pun ikut terapresiasi. Namun, bukan hanya pergerakan harga minyak mentah yang memengaruhi harga produk pertanian seperti CPO. Permintaan untuk makanan dalam kuantitas yang lebih besar dan dengan kualitas yang lebih tinggi, menjadi faktor pemicu kenaikan harga lainnya. Di China dan India, saat ini terdapat puluhan juta orang yang mampu beli produk pertanian yang berasal dari luar negeri dengan harga berapapun juga. Sebagai orang kaya baru mereka ingin menikmati makanan yang telah lama menjadi diet sehari-hari di negara maju. Selain itu, jangan dilupakan banjir yang sering menerpa berbagai wilayah di Indonesia dapat menghambat produksi dan mengurangi pasokan komoditas itu. Ketiga faktor itu kemungkinan besar cukup ampuh memacu harga minyak kelapa sawit di atas level US$1.200 per ton pada akhir 2008. Sebagai penutup, saya hanya ingin menyarankan investor untuk hanya menanamkan modal di pasar modal ataupun pasar berjangka yang benar-benar dingin dan tidak diperlukan untuk kebutuhan sehari-hari. Hal ini dipengaruhi volatilitas yang cukup tinggi pada 2008. Jadi, kencangkan sabuk pengaman Anda dan bersiaplah untuk menangkap peluang dengan baik dan menghindari kerugian. Selamat berinvestasi dan semoga sukses selalu. |
Sunday, January 27, 2008
Harga minyak akan tancap gas terus?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment